mangkanya dulu soekarno ga pernah ragu untuk bilang "ganyang malaysia" karena emang PD sama kekuatan militernya.. sekarang kan lebih milih diplomasi krn SBY yg notabene bekas TNI pasti tau persis kekuatan militer masing2 negara,, CMMIW
Pada Era Soeharto semuanya dibuat abu2... sih
condong ke Amerika tidak, ke Sovyet juga tidak.
jadi Indonesia sekarang ini menjadi seperti tidak punya identitas.
yg jelas, negara kita ini berasa udah di gadaikan entah ke siapa?
kita sudah terjajah kembali akibat politik masa lalu dan masa kini....
Laporan wartawan KOMPAS Mahdi Muhammad
Jumat, 3 September 2010 | 07:01 WIB
KABANJAHE, KOMPAS.com - Gunung Sinabung meletus kembali dengan kekuatan lebih besar, Jumat (3/9/2010) pagi, dibanding letusan sebelumnya.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, letusan lebih besar itu terjadi karena ada penumpukan energi yang terjadi setelah letusan terakhir, Senin (31/8/2010) lalu.
Catatan PVMBG, kegiatan vulkanik di tubuh gunung yang masuk wilayah Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara itu mulai meningkat drastis sejak Kamis (2/9/2010) pukul 19.30.
Sejak Jumat dini hari, seluruh penduduk yang tersisa di daerah rawan I bencana, seperti Desa Suka Nebi dan Desa Suka Nalu serta Desa Guru Kinayan telah dievakuasi.
Hal yang sama juga terjadi pada para petugas keamanan, baik dari Brigade Mobil serta TNI. Beberapa truk hilir mudik mengangkut para petugas keamanan. Tidak jarang warga menumpang kendaraan tersebut karena tidak ada sarana transportasi untuk mengangkut mereka keluar dari daerah tersebut.
Letusan terjadi sekitar pukul 04.45. Dua hingga tiga menit sebelum letusan, suara gemuruh sudah mulai terasa. Begitu juga dengan getaran yang mencapai hingga radius enam kilometer lebih.
Para penduduk yang masih tersisa segera meninggalkan tempat tersebut menggunakan kendaraan yang dimiliki. Hingga saat ini para penduduk masih berkumpul di sekitar kawasan Simpang Empat.
Alhamdulillah di bencana ini gak ada korban, masyarakat udh semakin pintar. semoga gunungnya kembali tidur lagi, kasian mau lebaran gini rakyat punya kebun tanaman sayur2an jadi gagal panen.
lebih menyedihkan, punya presiden gak peduli ma bencana beginian, malahan sibuk road show buka bersama di sana sini. hohohoho *gak salah deh ga nyoblos saat pemilu*
live life to the fullest
03-09-2010 08:13
03-09-2010 08:16
RE: Breaking News
Pras
== make DIY fun ==
Posting: 9.458
Grup: Anggota Istimewa
Ikutan: Sep 2007
Status:
Offline Reputasi: 366
Jakarta - Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bovendigul, Papua menuai kejutan politik bagi banyak kalangan. Kandidat yang diramal akan kalah, karena berstatus tersangka kasus korupsi yang saat ini berada dalam tahanan, Yusak Yaluwo, ternyata menang dengan satu putaran saja.
Adakah peran konsultan politik di balik kemenangan itu? Atau kasus ini merupakan gambaran sesungguhnya dari konsekuensi sebuah demokrasi yang harus diterima?
Direktur Konsultan Citra Indonesia (KCI)–LSI Grup, Barkah Pattimahu berpendapat, kasus kemenangan Yusak Yaluwo yang notabene klien yang didampinginya selama empat bulan itu merupakan cermin bahwa rakyat saat ini sudah mendapat kebebasan yang makin luas dalam memilih siapa calon yang dikehendakinya. Sebagai konsultan politik, kata Barkah, pihaknya tentu harus menunaikan tugas dan tanggungjawab profesionalnya dalam memenangkan klien dengan berbagai upaya strateginya.
"Kebetulan, sebagai konsultan kami bukan saja memiliki kemampuan menyusun dan merumuskan strategi kemenangan, tapi juga kemampuan dalam memotret peta dukungan melalui tracking survey yang memang sudah teruji secara ilmiah dan akademis. Sehingga, buat kami, kemenangan itu tak terlalu mengagetkan karena melalui survei sebelumnya mayoritas rakyat Buvendigul memang menghendaki Yusak terpilih," kata Barkah dalam sebuah dialog dengan pers menjelang buka puasa di Jakarta, Minggu (5/9/2010).
Saat digelar quick count oleh KCI pada 31 Agustus lalu, menurut Barkah, kemenangan Yusak Yaluwo itu makin terbukti. Dari data yang masuk, hasil quick count menunjukan Yusak Yaluwo-Yesaya Merasi unggul dengan dukugan 42,13 persen, posisi kedua ditempati Xaverius Songmen-Eksan Heremba dengan 33,11 persen, urutan ketiga Simon Siwoya-Paulus Wanggimop dengan 17,67 persen dan terakhir ditempati Marcelino Yamkondo-Eduard Haurissa dengan 7,09 persen.
Barkah menjelaskan, penghitungan cepat dilakukan di 123 TPS, dengan metode multistage random sampling. Dari 15 distrik yang ada di Bovendigul, pasangan Yusak Yaluwo-Yesaya Merasi unggul di 10 distrik, sementara pasangan Xaverius Sogmen-Eksan Heremba unggul di 4 distrik dan satu distrik dimenangkan pasangan Simon Siwoya-Paulus Wanggimop.
Diakui Barkah, kemenangan Yusak Yaluwo memang diluar prediksi prediksikan banyak pihak, termasuk para elit politik, mengingat Yusak Yaluwo adalah Bupati yang kini berstatus tersangka dan meringkuk dalam tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan korupsi anggaran APBD dan dana Otonomi Daerah Kabupaten Bovendigul sebesar Rp 49 miliar tahun 2005-2007.
"Tapi, inilah konsekuensi dari sebuah demokrasi, bahwa public memang mempunyai kebebasan dalam menilai dan memilih sendiri siapa tokoh yang dianggap pantas," tegasnya.
Ditanya tentang kiat dan strategi KCI dalam memenangkan Yusak, Barkah menjelaskan, salah satunya dengan memanfaatkan dan memaksimalkan modal yang sudah dimiliki kliennya itu, yakni modal popularitas. Sebab, salah satu tahapan penting seseorang dalam memilih calon itu adalah kenal atau setidaknya tahu soal calon tersebut. Adapaun beberapa strategi lain yang dilakukannya, adalah pertama, strategi pemilihan dan pemanfaatan media komunikasi yang tepat di tengah keterbatasan akses pada daerah pedalaman papua, kedua. strategi pilihan tema dan isu kampanye yang sesuai, ketiga, strategi mobilisasi dukungan sebelum dan saat pemilihan.
"Salah satu pesan penting yang harus dicatat dalam kasus kemenangan Yusak ini adalah bahwa demokrasi telah memberi tempat terhadap keinginan mayoritas publik, meskipun keinginan tersebut buat sebagian yang lain, khususnya kalangan elit dinilai tidak tepat. Inilah demokrasi, apa yang menurut kita benar dan tepat, belum tentu buat mayoritas rakyat. Mungkin hal ini nanti akan menjadi salah satu bahan pertimbangan hukum," katanya.